Ahmad Zaki Iskandar Diminta Partai Koalisi Segera Tetapkan Cagub

Ahmed Zaki Iskandar Golkar

Mengelola dukungan partai politik di perhelatan pilkada memang bukanlah perkara mudah. Terlebih diiringi syahwat politik yang membara. Menghadapi situasi seperti ini seharusnya lebih berani mengambil tantangan. Demikian, tampak gambaran peta dukungan di Kabupaten Tangerang jelang pemilihan bupati (pilbup) 2018.

Meski secara ‘fasih’ sudah mendukung pertahanan A. Zaki Iskandar (AZI), tapi tanpa komunikasi apik, gerakan di lapangan belum tentu sefasih dukungan. Begitulah politik, yang sejatinya dijadikan jalan menyalurkan aspirasi. Jika aspirasi tidak sampai, boleh jadi, keberanian mengambil tantangan bisa muncul lewat kebersamaan tersebut. Sebab bagaimanapun, masing-masing parpol punya basis massa yang tidak bisa dipandang remeh.

Di Kabupaten Tangerang parpol-parpol pendukung petahana A. Zaki Iskandar (AZI) intens membangun komunikasi politik. Seperti yang tampak di rumah makan Istana Nelayan Kebon Nanas, Tangerang. Pentolan sembilan parpol pendukung AZI  yang tergabung dalam lintas parpol, duduk bareng.

Selidik punya selidik, pertemuan mereka membahas tuntutan ketegasan AZI mengenai parpol pengusung, sekaligus menentukan calon wakil bupati yang dinanti duduk bareng ditengah mereka. “Dalam rencana awal, Zaki sepakat akan duduk bareng dengan partai pengusung guna menentukan calon pendamping Zaki di pilkada kali ini,” ungkap sumber di lokasi.

Mereka bahkan sempat mengancam, jika penantian mereka mengenai hal itu tidak segera terjawab oleh AZI, sikap politik lain bisa saja dipilih. Tidak dipungkuri, dilema dalam menentukan pendamping di pilkada kali ini, tengah dirahasiakan AZI. Seperti diketahui, jelang masa pendaftaran pasangan calon bupati dan wakil bupati, AZI belum juga mendeklarasikan calon pasangannya.

Kemungkinan, keraguan memilih calon pendamping karena berkaitan dengan kelanjutan trah. AZI perlu me-manage kondisi politik sepeninggal dirinya nanti. Dan, pemilihan calon pendamping di pilkada kali ini, akan menjawab kearah mana trah itu dipertahankan. Trah Ismet kah? Trah Golkar? Atau keduanya.Soal menang-kalah, tampaknya tidak lagi menjadi pertimbangan.

Pasalnya, popularitas dan elektabilitas AZI sulit dikejar. Meski di akhir waktu misalnya ada lawan menyilang, tak sulit bagi AZI mempertahankan kemenangan. Seiring hal itu, terlepas dari bagaimana prosesi AZI dan tim menggodok nama-nama calon wakil bupati, AZI dituntut menimbang cermat mengenai nasib Kabupaten Tangerang sepeninggalnya kelak.

Tanpa menyebut sejumlah nama yang muncul di lapangan sebagai kandidat terkuat pendamping AZI, pertimbangan kedua trah tersebut layak dihitung cermat. Bukan soal politik dinasti, tapi soal trah kepemimpinan yang diharapkan berlanjut.

Trah kedua yang jadi tuntutan politik, yakni trah Golkar. Dalam beberapa dekade, Golkar menguasai kepemimpinan di Kabupaten Tangerang. Bahkan saat ini, AZI masih memimpin Partai Golkar Kabupaten Tangerang. Maka, sepeninggal AZI nanti, Golkar tentu tak ingin kehilangan peran.

Demi menjaga kelangsungan trah tersebut, akhir-akhir ini muncul nama kader Golkar lainnya yang diproyeksikan menjadi pendamping AZI. Secara politis, sah-sah saja. Golkar dengan AZInya, masih memegang kartu As dipilkada tahun ini. Sehingga bila hendak menawarkan duet kader Golkar pun, terasa tidak mengurangi peluang kemenangan AZI diperiode keduanya.

“Jika Golkar ngotot memasangkan duet kadernya, saya kira ini akan sangat menguras energi untuk meyakinkan parpol-parpol pengusung. Butuh komunikasi politik yang apik dan sesegera mungkin. Apalagi, beberapa diantara parpol pengusung tersebut sudah sepakat mengusung Iskandar Mirsyad sebagai calon pendamping AZI,” ungkap sejumlah pemerhati pilkada di Kabupaten Tangerang.

Sumber: Suara Rakyat Merdeka