Airlangga Dianggap Mampu Meretas Jalan Tengah Politik Partai Golkar

Airlangga_hartanto_Menperin_dokMenperin

Menilik pada kondisi Partai Golkar belakangan ini, usulan untuk segera mengadakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) semakin menguat. Berbagai pemberitaan mengindikasikan Golkar akan kembali menggelar Munaslub untuk menentukan tampuk pimpinan tertinggi partai beringin itu.

Ada beberapa figur yang digadang-gadang memiliki karakter kuat, memiliki pengalaman, dan tentunya memenuhi prasyarat PDLT. Nama Airlangga Hartarto merupakan salah satu dari banyak figur tokoh yang berpotensi untuk mengisi jabatan ketua umum pasca kekosongan akibat Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Selain syarat yang tersurat tersebut, terdapat juga syarat tersirat yang secara tidak langsung dibutuhkan Golkar pada masa transisi kepemimpinan. Pasalnya, kondisi Golkar yang sedang terjepit membutuhkan tangan dingin figur tokoh yang dapat menyatukan seluruh faksi di Partai Golkar dan keberadaannya dapat diterima seluruh kader.

Nama Airlangga Hartarto santer terdengar, selain maraknya pemberitaan yang mengisyaratkan jika Airlangga siap mendapatkan amanah untuk jabatan Ketua Umum Golkar, suara di internal partai juga massif mendukung Airlangga. Dukungan partai Golkar terhadap kepemimpinan Airlangga Hartarto dianggap sebagai jalan tengah yang mempersatukan faksi dan persatukan kader.

Apalagi Airlangga juga sekarang masih di dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yakni menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Hal ini ditegaskan oleh Indria Samego, peneliti politik dari LIPI. Selain faktor tersebut, jika memang diadakan Munaslub kembali, maka Airlangga adalah figure yang tepat untuk memainkan peran sebagai penjaga keseimbangan politik Golkar secara eksternal maupun internal.

Permasalahan yang ada dalam tubuh Partai Golkar saat ini bukan hanya mengenai soal aspirasi kader dan faksional, namun juga yang menjadi masalah adalah adanya kelompok yang menghendaki Golkar tetap mendukung pemerintah (Pro Jokowi) dan kelompok penentang sikap Golkar yang mendukung pemerintah. Airlangga Hartarto sekali lagi memiliki kemampuan ideal menjaga keseimbangan dinamisasi partai dalam konstelasi menjelang Pemilu 2019.

“Dukungan pada pemerintah akan mempertegas komitmen partai. Contoh sikap Nasdem, Hanura, PPP bisa dilihat sebagai konsistensi. Memang akan ada resiko. Tapi, setiap pilhan mengandung resiko,” ujar Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indria Samego. Karena Indria Samego menilai jalan restrukturisasi Partai Golkar menjadi harga mati bila ingin menyelamatkan nasib partai berlambang beringin pasca penahanan Setya Novanto.

“Orang-orang Partai Golkar yang memilih status quo harap menyadari soal itu,” ujar Indria Samego.

Karena menurutnya, hal ini akan lebih mengedepankan harmonisasi partai daripada mempertajam faksionalismenya. Untuk itu perlu ada kesepakatan diantara elite Partai Golkar untuk lebih mengutamakan kepentingan partai. Karena menurutnya, hanya dengan konsolidasi dan restrukturisasi, partai dapat dilihat secara lebih obyektif.

Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian digadang- gadang untuk menjadi ketua umum Partai Golkar menggantikan Setya Novanto. Meski begitu Airlangga menyatakan, belum bisa berkomentar banyak mengenai wacana tersebut. Pasalnya, untuk memilih ketua umum, Partai Golkar punya mekanisme sendiri.

Mekanisme tersebut, bergantung kepada aspirasi daerah. Selain menyerahkan kepada daerah, Airlangga juga mengatakan, pencalonannya menjadi ketua umum Golkar juga bergantung pada Presiden Jokowi. Hal ini dapat dimengerti karena Airlangga Hartarto saat ini masih menjadi menteri kabinet kerja pada Pemerintahan Jokowi.