Batu Tulis Bogor dan Rupa-Rupanya

Batu Tulis Bogor

Bogor dikenal memiliki kekayaan sejarah, baik cagar alam dan cagar budaya. Salah satu yang masih menjadi tujuan wisata adalah prasasti Batu Tulis. Prasasti Batu Tulis dikunjungi bukan sekedar untuk tujuan wisata biasa namun bisa juga untuk tujuan spiritual tertentu. “Banyak yang datang ke sini, bukan hanya masyarakat biasa. Pejabat-pejabat yang sekarang sering diberitakan di koran, dulu sering ke sini,” menurut Sutirman, juru kunci Prasasti Batu Tulis.

Tidak setiap hari, Prasasti Batu Tulis dibuka untuk umum, tetapi bagi yang berniat melakukan ritual atau hanya sekedar mengunjungi bisa menghubungi juru kunci untuk dibukakan oleh Sutirman. Menurut Sutirman, setiap hari Kamis, malam Jumat, dibuka sepanjang malam karena biasanya yang berkunjung pada hari itu, jauh lebih banyak.

Memang, Batutulis ini adalah tempat yang istimewa. Konon, ratusan tahun yang silam tempat ini sangat hening, sepi, dan bahkan berkabut. Penduduk setempat, mempercayai sebagai tempat harimau dan, kemudian beranggapan adanya hubungan adanya kerajaan Pajajaran yang sirna oleh harimau. Hal ini tak lepas dari cerita ekspedisi Spicio yang ditugaskan Belanda untuk mencari letak Kerajaan Pajajaran. Ketika masuk ke dalam wilayah Buitenzorg atau Bogor hari ini, kemudian rombongan mengarah ke daerah Batu Tulis sekarang berdasar dari petunjuk warga, yang ditemukan adalah sekelompok harimau atau maung dalam bahasa Sunda. Maung tersebut menunggui Batu Tulis dan bahkan menjadikannya sarang. Maka sejak saat itulah, sejarah Sunda dan Pajajaran identik dengan maung atau harimau.

Prasasti Batu Tulis sendiri kini berada dalam sebuah cangkup bangunan di tepi Jalan Raya Batu Tulis, Kelurahan Batu Tulis, Kecamatan Bogor Selatan.

Menurut catatan sejarah, prasasti batu tulis dibangun pada tahun 1533 oleh Prabu Surawisesa, sebagai peringatan terhadap ayahanda Prabu Siliwangi. Yang merupakan raja pajajaran. Prabu Siliwangi massa pemerintahan pada tahun 1482 – 1521. Raja sakti mandraguna itu dinobatkan dengan gelar Prabu Guru Dewata Prana, lalu bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Disebelah prasasti terdapat sebuah batu panjang dan bulat sama tinggi dengan batu prasasti. Batu panjang dan bulat (lingga batu) mewakili sosok Sri Baduga Maharaja sedangkan prasasti itu sendiri mewakili sosok Surawisesa. Penempatan kedua batu diatur sedemikian rupa dengan kedudukan antara anak dengan ayah mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahandanya dapat dengan mudah diketahui atau dibaca orang.

Di tempat tersebut sebenarnya terdapat 15 peninggalan batu berbentuk terasit, batu yang terdapat di sepanjang Sungai Cisadane. Ada enam batu di dalam cungkup, satu di luar teras cungkup, dua di serambi dan enam di halaman. Satu batu bercap alas kaki, satu batu bercap lutut, dan satu batu besar lebar yang berisi tulisan Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Konon prasasti batutulis itu ditulis oleh Prabu Surawisesa sebagai bentuk penyelasan karena beliau tidak mampu memepertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang diamanatkan padanya, akibat kalah perang dengan kerajaan Cirebon. Namun mitos yang berlaku adalah sebaliknya, Batu Tulis dianggap sebagai prasasti atau bangunan tempat raja-raja Pajajaran diambil sumpah setianya kepada Pajajaran.

Kondisi Batu Tulis sendiri hari ini dirasa tidak terawat dan bahkan letaknya jarang diketahui orang. Sedikit orang perdulikan bangunan yang kelak menjadi cikal bakal dari tatar sunda secara budaya maupun demografis. Miris memang, bukan hanya Batu Tulis saja, hampir setiap situs sejarah kini seolah tertelan oleh dimensi waktu dan hilang dari peradaban. Padahal sejarah telah membentuk kita hingga sampai pada peradaban hari ini.