Cawalkot Golkar Kota Bandung Ini Ingin Perjuangan Dewi Sartika Tak Padam

Nurul Arifin Golkar

Kelahiran perempuan pahlawan nasional Raden Dewi Sartika, diperingati tanggal 4 Desember setiap tahunnya. Dewi Sartika merupakan salah satu pahlawan nasional asal Jawa Barat, asli datang dari Bandung. Perempuan yang dijadikan pahlawan atas jasanya di bidang pendidikan ini merupakan gadis kelahiran Cicalengka, Bandung pada 4 Desember 1884 silam.

Untuk memperingati hari kelahirannya, Bakal Calon Walikota Bandung, Nurul Arifin, melakukan ziarah ke makam Dewi Sartika di Komplek Makam Bupati Bandung, Jalan Karanganyar, Bandung, pada Senin pagi.

Menurut Nurul, Dewi Sartika adalah sosok perempuan visioner karena pemikirannya dalam dunia pendidikan dan sebagai perempuan apa yang menjadi platform perjuangannya melampaui jaman ketika itu. Ditambah lagi Nurul Arifin dan Dewi Sartika merupakan sama-sama perempuan sehingga memiliki kesamaan secara gender. Nurul juga banyak terinspirasi dengan perjuangan Dewi Sartika sebagai pejuang pendidikan.

“Dewi Sartika tidak hanya berwacana tentang pendidikan bagi perempuan, namun lebih dari itu, beliau  berhasil mendirikan sekolah, padahal kala itu keberadaan sekolah sangat sulit untuk didirikan, bukan hanya menulis namun juga mempraktekkan, termasuk mengajarkan secara langsung berbagai ilmu bagi kaum perempuan,” ujar Nurul Arifin dalam siaran persnya.

Ia juga mengatakan, perempuan di tanah Sunda harus bersyukur dan bangga memiliki seorang Dewi Sartika sebagai pahlawan. Dewi Sartika dianggap sebagai sosok yang mengangkat martabat dan derajat perempuan. Khususnya bagi perempuan sunda dan umumnya bagi perempuan Indonesia. Bagi Nurul Arifin, Dewi Sartika adalah panutan bagi perempuan Indonesia pada umumnya.

“Kita harus terus mengejar dan mengembangkan pendidikan, karena pendidikan adalah ruh bagi kemajuan sebuah bangsa dan dapat menghantar kita agar menjadi bangsa yang beradab. Bangsa indonesia  harus dapat berkiprah di dunia internasional melalui karya dan prestasi anak-anak bangsa. Perempuan terutama tidak boleh lagi merasa minder dan terbelakang, era keterbukaan seperti sekarang membuat siapapun dapat berprestasi,” kata Nurul Arifin.

Nama Dewi Sartika dikenal karena jasa di bidang pendidikan, terutama pendidikan untuk kaum perempuan. Dewi Sartika sendiri dalam fase perjuangannya telah mendirikan sekolah untuk kaum perempuan yang hingga sekarang dikenal dengan nama SMP Dewi Sartika.

“Dewi Sartika telah menyalakan cahaya di awal abad 20, tugas kita sekarang adalah meneruskan gelora semangatnya. Menjaga nyala apinya. Api pendidikan Dewi Sartika, tak boleh padam,” ujar Nurul Arifin.

Usai ziarah ke makam Dewi Sartika, Nurul Arifin rencananya akan hadir di Milangkala ke-133 Raden Dewi Sartika di Padepokan Mayang Sunda. Jawa Barat memang sejak dahulu dikenal dengan gudang pahlawan perempuan yang harus dijadikan panutan atas perjuangan maupun sikapnya, selain Dewi Sartika masyarakat Jabar juga sangat meneladani figur Diah Pitaloka Citraresmi yang dianggap sebagai perempuan dengan sikap dan nasionalisme tinggi untuk tanah kelahirannya.