Dedi Mulyadi: Jawa Barat Harus Ciptakan Sawah Abadi

Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi menaruh perhatian pada alih fungsi lahan yang tidak memperhatikan konsep Rancangan Umum Tata Ruang (RUTR) di Jawa Barat. Pasangan yang mengubah nama usai pengambilan nomor urut dari “Duo DM” menjadi DM4Jabar ini mengaku prihatin atas kondisi lahan pesawahan di Jawa Barat.

Untuk itu, pasangan ini memprioritaskan program menciptakan sawah abadi di Jawa Barat jika terpilih memimpin tatar Pasundan nantinya. Dengan program ini, lahan pesawahan tidak boleh beralih fungsi menjadi kawasan industri atau properti. Program ini ditegaskan oleh calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam kunjungannya ke Desa Panayungan, Kecamatan Teluk Jambe Timur, Karawang, Selasa (20/2).

“Antisipasinya harus ada payung hukum untuk menciptakan sawah abadi. Saya kira, nanti bisa diubah RUTR di masing-masing kabupaten dan kota di Jawa Barat,” kata Dedi dalam siaran pers yang diterima SP di Jakarta, Rabu (21/2).

Bukan tanpa alasan, Dedi melontarkan konsep ini. Dedi menilai, sebuah kawasan yang menjadi lumbung padi tidak seharusnya diperuntukan untuk kepentingan lain. Secara jangka panjang katanya, alih fungsi dapat berakibat pada terganggunya kedaulatan pangan di wilayah tersebut.

“Kalau dibiarkan, ini bahaya untuk ketersediaan bahan pangan terutama beras. Jadi, sawah harus tetap menjadi sawah, tidak boleh diubah untuk keperluan lain,” tegasnya.

Kang Dedi, sapaan Dedi Mulyadi merupakan sosok yang dibesarkan di lingkungan petani. Untuk itu, Bupati Purwakarta dua periode ini merasakan pentingnya lahan sawah walau luasnya hanya satu kotak kecil. Dedi menegaskan, jika dikelola secara mandiri, luas sawah yang tidak begitu besar pun bisa menghidupi banyak keluarga.

“Kemandirian pangan kita bisa terbangun walaupun kita hanya berangkat dari satu kotak sawah kecil. Justru, kuatnya bangsa kita ada pada kemandiriannya,” katanya.

Selain mampu menghasilkan bahan pokok berupa beras. Sawah menurut Dedi, juga memiliki sisi penting dalam rangka pemenuhan gizi. Hal ini lantaran tidak hanya padi yang dapat menjadi komoditas dari sawah. Lauk pauk pun, katanya dapat ditemukan di sawah.

“Di sawah itu bukan hanya padi loh, ada tutut, ikan gabus, belut, kangkung dan genjer bisa tumbuh. Kalau petani kreatif kan bisa sambil menanam kacang atau sayuran lain. Saya kira ini penting untuk pemenuhan gizi petani kita,” ujarnya.

Paparan Dedi ini diamini oleh Mak Anih (52), buruh tani di desa setempat. Mak Anih menuturkan, bertani merupakan mata pencaharian masyarakat di Desa Panayungan. Mak Anih dan para petani lain merasa terancam dengan pembangunan berbagai kawasan industri.

“Di sini masih sistem bagi hasil. Lima banding satu. Jadi tidak usah beli beras kalau persediaan masih ada. Kalau sudah habis ya terpaksa menunggu beras bulog. Cuma ya itu, lahan sawahnya makin berkurang sekarang,” tuturnya

Sumber : beritasatu.com