Dedi Mulyadi: Ketika Diri Sendiri Lawan Terberat Yang Harus Redam

Lingkungan rumah dinas bupati Purwakarta tengah ramai hari itu. Puluhan orang berdatangan. Silih berganti. Rela antre. Datang sendiri maupun berkelompok. Demi menemui seseorang. Dari menyampaikan pelbagai macam laporan hingga keluhan.

Seseorang itu adalah Dedi Mulyadi. Hari itu sudah dua kali ganti pakaian. Sejak pagi kegiatannya sudah padat. Di mulai dengan bersepeda berkeliling kota. Lalu, kembali ke rumah dinas. Berganti pakaian. Serba putih. Tak lupa ikat kepala sunda. Duduk di ruang tamu, dia terus menanggapi tiap orang maupun kelompok.

Sejak mengikuti Pilgub Jawa Barat, diakui Dedi, banyak tamu datang. Di antara para tamu juga hadir kelompok kepala desa seluruh Purwakarta. Bukan hanya itu. Beberapa kerjaannya juga harus segera diselesaikan. Maklum saja. Tanggal 12 Februari nanti di harus cuti.

Hampir seluruh tamu sudah ditemui. Sampai akhirnya giliran kami. Terpaksa Dedi meminta sore hari. Dia ingin mengajak kami berkeliling komplek kantor bupati. Lokasinya masih satu area dengan rumah dinas. Memang cukup luas. Di wilayah itu bukan hanya berdiri kantor dinas. Banyak pula bangunan unik. Namun, sebelum itu Dedi mengganti pakaian. Bergaya lebih kasual. Memakai kemeja corak hitam putih. Celana panjang putih, sepatu boots cokelat. Dan mengganti ikat kepala dengan topi lebar. Penampilannya bak koboi. “Kan pemimpin zaman now,” ujar Dedi sambil tertawa.

Awalnya kami ditunjukkan area pendopo. Area ini biasanya digunakan pelbagai kegiatan. Bentuknya kotak, tanpa kaca. Hanya beberapa tiang warna cokelat sebagai penyangga. Persis di depan pendopo adalah kantor bupati. Gaya arsitekturnya bak rumah peninggalan Belanda. Bercat putih. Dihiasi dua kereta kencana di bagian teras. Lalu sebelah kiri kantor bupati juga dibangun museum wayang. Banyak wayang terutama asli sunda terpajang.

Area lainnya, kami diajak ke dalam gedung pertunjukan. Banyak pentas seni kerap digelar. Bahkan rencananya Pemkab Purwakarta bakal bekerja sama dengan banyak rumah produksi film untuk memutar karyanya di aula tersebut. Ini dilakukan lantaran di Purwakarta belum hadir bioskop.

Setelah lama berkeliling, kami duduk di bangku taman. Dedi bercerita banyak. Terutama soal gejolak di Golkar hingga akhirnya memberikan kesempatan kepada Deddy Mizwar dalam Pilgub Jawa Barat. Dedi Mulyadi mengalah. Menerima maju sebagai bakal calon wakil gubernur. Berikut wawancara lengkap Dedi Mulyadi dengan merdeka.com pada Rabu, 24 Januari 2018.

Golkar akhirnya kembali memercayakan Kang Dedi maju sebagai calon gubernur. Benarkan pergantian ketua umum di Golkar sangat berpengaruh?

Memang sangat berpengaruh. Kalau ketumnya enggak ganti ya (calon gubernur di Jabar dari Golkar) enggak diganti. Nah tetapi juga ketua umum yang lama itu tidak salah. Dia melakukan itu karena saya tahu bisa jadi pada waktu itu ada kegalauan politik yang dimiliki.

Bahwa rekomendasi itu diberikan (kepada Ridwan Kamil). Itu memberikan implikasi sehubungan dengan kegelisahan hati sehubungan dengan masalah di atas. Menurut saya wajar seseorang melakukan hal merugikan orang lain demi kepentingan dirinya.

Lalu apa alasan lain Partai Golkar memercayakan Anda lagi?

Elektabilitas itu persoalan yang debatable. Bagaimana orang mau naik elektabilitasnya kalau dideklarasiin juga tidak. Itu men-downgrade. Tetapi setelah dideklarasikan, elektabilitas sekarang bisa diceklah. Mepetlah.

Ketika saya tidak dicalonkan, silakan dicek saya bilang apa. ‘Maafkan saya karena belum bisa membahagiakan sesuai harapan anda’. Dan itu nangis. ‘Jangan pikirkan saya, pikirkan diri Anda. Saya biarkan berjalan pada garis koridor saya. Apa yang kita alami ini adalah bagian dari bagaimana Allah mengangkat drajat saya’. Ikhlas saja.

Anda sudah berpasangan dengan Deddy Mizwar sekaligus membuat Golkar dan Demokrat resmi berkoalisi di Pilgub Jawa Barat. Bisa diceritakan, bagaimana proses perjodohan dan koalisi dua partai ini?

Setahun setengah yang lalu, subuh-subuh sedang berkunjung di rumahnya (Deddy Mizwar). Saya bilang, soal pilgub yuk kita bareng-bareng. Kata Pak Deddy Mizwar, ‘bagaimana bareng-bareng, saya kan enggak punya partai’. Saya lalu bilang (ke Deddy Mizwar), ya bareng Golkar saja. Lalu dia bilang, ‘Golkarnya sudah pasti atau belum?’ Itu pertemuan pertama.

Lalu pertemuan kedua, waktu itu Pak Deddy Mizwar ditinggal partai juga. Sudah dideklarasikan dua partai, kemudian tidak jadi. Membuat dia galau lagi. Kemudian dia datang ke kantor saya, kemudian bercerita kanan-kiri, kemudian jadi berita ‘pacar ketinggalan kereta’.

Kemudian setelah itu saya melakukan pertemuan kembali untuk ketiga kalinya. Dan kita bareng. Pak Dedi Mizwar sangat percaya diri, ‘saya sudah dicalonkan Partai Demokrat dan bermitra dengan salah satu partai dan enggak mungkin lagi bareng Pak Dedi Mulyadi’. Ya sudah saya bilang, ‘tidak apa-apa. berarti bukan jodohnya’.

Kemudian tiba-tiba saya dapat rekomendasi Partai Golkar, kemudian kan Pak Deddy Mizwar ditinggalkan oleh partai yang mengusungnya. Sore saya diberi rekomendasi jam 4, jam 5 (sore) saya hubungi ketua demokrat (Jabar) saya minta ketemu kemudian bertemu Deddy Mizwar, ya sudah kita bareng. Salaman. Saya waktu itu bilang. Sudahlah Pak Deddy Mizwar jadi gubernurnya, saya jadi wakil gubernurnya.

Sore itu jadinya. Pengumumannya malam. Saya kan orangnya cepat. Cepat memutuskan.

Mengapa Anda akhirnya menerima posisi calon wakil gubernur dan bukan calon gubernur?

Saya bukan menerima. Saya yang meminta.

Alasannya apa?

Pertama Pak Deddy Mizwar usianya di atas saya. Jauhlah. Yang ke-2, dia ini kan wakil gubernur. Saya ini bupati. Sasa wakil gubernur jadi wagub lagi. Masa bupati jadi gubernur dan wagub jadi wagub lagi. Menurut saya kurang elok.

Kemudian yang ke-3 adalah, target saya bukan jabatannya. Target saya kan kerjanya. Karena Pak Deddy Mizwar mengatakan urusan pekerjaan wagub jalan. Tanda tangan bikin komitmen. Urusan anggaran, urusan kepegawaian, urusan infrastruktur, urusan bangunan pedesaan, silakan. Dikasih ruang ya saya enggak ada problem dong. Kan itu yang ingin saya lakukan. Ingin bekerja mengefisienkan anggaran agar berdampak bagi kepentingan publik yang luas. Agar pemerintah pusat bisa membangun rumah sakit daerah tipe A. Agar setiap desa punya SMA, orang-orang sakit agar punya ambulance, punya dokter yang free (gratis) bagi masyarakat. Agar di setiap desa ada bidan, perawat yang free bagi masyarakat. Ada rumah pelayanan, rumah ambu saya bilangnya. Kalau seluruh gagasan-gagasan itu bisa terwujud, ya buat apa lagi meributkan jabatan. Yang penting kerja.

Kabarnya belum lapor partai pas jadi sama Deddy Mizwar?

Ya memang bener. Abis itu baru cerita.

Diomelin sama Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga?

(Tertawa) dinasihatin. Ketum saya kan bijak. Pertimbangannya apa, serius enggak. Potensi kemenangannya bagaimana. Alhamdulillah tinggi. Ya sudah.

Benarkah nantinya Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Pak Wapres Jusuf Kalla siap turun gunung menjadi juru kampanye duet Dua DM ini? Apa alasannya?

Pak JK kan Golkar. Pak SBY Demokrat. Wajar dong kalau Pak JK dan SBY kampanye buat saya.

Sudah menemui dua orang ini?

Sudah pada bertemu. Kan pas munaslub koordinasi sama Pak JK. kemudian sebelum deklarasi pasangan 2DM di Sabuga kan bertemu Pak SBY. Pak SBY kan kasih sambutan. Dan Pak SBY liat pidato saya waktu itu.

Pak SBY liat pidato saya, tepuk tangan dan jempolnya diacungin dua.

Sedangkan dengan wapres Jusuf Kalla?

Munaslub koordinasi terus. Iya dong, Pak Airlangga terpilih kan di antaranya motivasi dari Pak JK. Pak Jokowi kan kasih motivasi memperbolehkan sebagai menteri. Itu kan motivasi juga.

Untuk saat ini nama duetnya apa?

Ada yang kasih nama duo DM, DeddyDedi, ada yang bilang dedikasi, ya terserah aja. Enaknya masyarakat. Jangan dikasih merek sama kita. jangan kita kasih merek orang harus terima kita. kalau saya sih terserah aja. gak usah bikin seragam pakai konsultan namanya haris begini. gak usah. suka2nya dia aja. Terserah. yang jelas, gubernurnya Deddy wakilnya Dedi.

Setelah merasa sudah cocok, apa program yang sudah dibuat?

Ya kan kita sudah sampaikan. Satu di antaranya pembenahan linglkungan di Jabar. Yang harus ditata kembali sehingga menjadi kabupaten yang ramah lingkungan. Bersih sungainya, hijau gunungnya, jernih airnya gituloh. Bersih seluruh jalannya, bebas polusi, kemudian penambangannya di atur.

Kemudian yang kedua penataan ruangnya diatur, tata perumhannya di atur, dengan baik tersinergi antara gubernur dengan bupati/wali kota. Lalu Jabar menjadi provinsi yang tingkat kesenjangannya tidak terlalu tinggi antara kaya dan miskin, satu daerah dengan daerah lainnya. kemudian buruh dan majikan, petani dan buruh tani. Ini kan problem sosial di jabar. Sekarang ngomongin beras, harga beras malah yg menderita siapa? Ya buruh tani. Itu daerah utara (Jabar) langganan raskin. Itu kan harus segera dibenahi.

Kemudian yang ketiga adalah dorongan pembangunan di pedesaan. Desa satu dengan yang lain jenjangnya jangan terlalu jauh. Sekarang kan sistem pembangunannya digebuk rata. Desa subsidi misalnya setahun 100 juta. Desa ada yang penduduknya 2000 ada yang 220.000 loh di jabar. masa sama bagiannya (subsidinya). Itu kan harus diubah.

Kemudian yang berikutnya adalah pelayanan kesehatan berbasis desa dan kelurahan. Serta berbasis RW bila perlu. Sehingga ada dokter di situ, bidan di situ, dan didukung dengan perangkat zaman now, perangkat teknologi aplikasi. Dokter tinggal pijit (ponsel pintar). Datang dokter, datang bidang, datang perawat, mudahlah jadi sistemnya yang mempercepat sistem pelayanan. Dan sekolah makin dekat dengan masyarakat. sehingga rata2 masyarakat jabar pendidikannya SMA

Lalu pengangguran. Bagaimana? Ya bikin sistem aplikasi diseluruh kabupaten/kota di mana layanan jasa melamar kerja itu lewat online. Jadi tak perlu lagi orang bikin SKCK, antre. Itu saja lamarnya belum diterima. Lamar dulu diterima baru bikin SKCK. Dibuat efisien mungkin.

Kemudian sekolahnya diarahkan pada peningkatan SDM. Di mana anak-anak sekolah menjadi manager di perusahaannya. Bangunlah sekolah manajer di sekitar industri. Seperti di Purwakarta, pendidikannya manager. Sehingga manajer-manajer di perusahaan itu adalah orang Jabar.

Saya calon wagub yang mempunyai visi. Enggak ikut gubernur. Tetapi bersama-sama gubernur merumuskan kebijakan strategis yang bermanfaat bagi percepatan pembangunan publik di Jabar. Jadi kalau saya dan Pak Deddy Mulyadi memimpin, kalau orang 100 tahun sama saja pekerjaan saya 5 tahun.

Ada empat pasang di Pilgub Jabar, lawan paling berat siapa?

Lawan paling berat diri kita sendiri. Bukan pasangan tiga ini. Diri kita untuk tidak ego, diri kita untuk menyapa warga dengan ikhlas. Diri kita untuk tidak untuk malas, diri kita untuk mau mewujudkan gagasan itu sekedar janji-janji. Diri kita untuk tidak menyerang orang lain dengan isu-isu black campaign. Itu saja. Selama kita dapat mewujudkan gagasan dengan baik dengan bantuan perangkat media online media elektronik, jadi kita. Publik juga rasional kok.

Semua pasangan ini berarti sudah sangat layak?

Pasangan Sudrajat dengan Syaikhu, jenderal dengan wakil wali kota bekasi dan mantan ketua DPW PKS Jabar. Pasangan Ridwan Kamil dan Uu, wali kota Bandung dan bupati Tasikmalaya. Kemudian pasangan TB Hasanuddin dan Anton Charliyan, bayangin. Jenderal dan jenderal.

Sumber : Merdeka.com