Dedi Mulyadi Merencanakan Program 5000 Kampung Berkarakter Dan 500 RS Berfasilitas Lengkap

Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 4, Dedi Mulyadi, melanjutkan kunjungan sosialnya ke Kampung Lubang Buaya RT 01 RW 03, Desa Lubang Buaya, Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Perhatian mantan Bupati Purwakarta itu tertuju pada seorang balita berusia 2,5 tahun yang menderita penyakit komplikasi.

Orang tua dari balita bernama Ubaidillah itu menyebut, sang anak menderita katarak, gangguan pendengaran serta kebocoran jantung (micro safali), sejak dirinya masih menginjak dua bulan.

“Sakit sejak usia 2 bulan. Untuk pengobatan kataraknya saya bawa ke rumah sakit di Bandung, sedangkan jantung sekaligus terapinya saya bawa ke RSCM,” kata sang ayah, Ruly Hermawan (32), Senin 5 Maret 2018.

Ia pun mengungkapkan keinginannya, agar pemerintah daerah memberikan fasilitas rumah sakit yang setara dengan rumah sakit besar di daerah lain. “Masyarakat mengharapkan pelayanan dan fasilitas yang lengkap, contohnya RS Hermina yang lengkap, ada khusus anak dan umum. Kalau lengkap kan tidak lama mengantri,” imbuhnya.

Dedi Mulyadi yang sangat konsern dengan masalah kesehatan, prihatin dengan kondisi yang menimpa balita yang akrab disapa Ubai itu. Beruntung bocah malang tersebut memiliki orangtua yang terbilang mapan, sehingga bisa memberikan pengobatan maksimal untuk Ubai.

“Untung orang tuanya mapan, tidak terlalu banyak bebannya. Ya sekalipun mapan, kalau sudah urusannya anak, pasti ada keluhan-keluhan dari orangtua juga,” kata Dedi.

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat itu menuturkan, dirinya telah menyiapkan sejumlah program untuk melakukan penataan dan pembenahan di bidang kesehatan, yang akan diselaraskan dengan pengelolaan pemukiman. Hal inilah yang dirasa sangat diperlukan untuk mengatasi masalah kesehatan warga yang terus bermunculan.

“Ada program 5.000 kampung berkarakter dan 500 RS khusus paru-paru di Jawa Barat juga mesti ada, seperti RS Hasan Sadikin Bandung. Jadi nanti warga di perkampungan dapat tertata sekaligus memiliki lingkungan kesehatan yang baik,” ujar Dedi di hadapan warga yang mengerumunginya.

Mengingat semakin meningkatnya penderita paru-paru khususnya di Jawa Barat, Dedi menekankan pentingnya langkah-langkah preventif dan penanganan yang tuntas bagi penderitanya. Karena itu kedua hal utama yang telah disebutkan Dedi, dianggap sebagai langkah paling tepat untuk penanganannya.

“Penderita paru-paru harus diobati sampai tuntas, kemudian pulang dalam keadaan sembuh. Maka dari itu RS paru-paru di Jawa Barat harus ditambah, sebab penderitanya itu semakin banyak. Dan yang paling utama untuk mencegah paru-paru adalah perkampungan harus ditata kembali,” jelasnya.

Menurutnya, perkampungan warga harus mendapat penataan yang baik, terlebih jika jumlah penduduknya sangat padat. Karena melalui penataan pemukiman yang baik, tentunya akan memberikan efek kesehatan yang baik pula terhadap warganya.

“Maka dari itu akan saya dorong program 5.000 kampung. Ditata kembali lingkungannya dan ruang terbuka hijaunya yang berguna untuk menghasilkan udara segar. Hal ini akan sangat dibutuhkan warga, khususnya yang penderita paru-paru,” paparnya.

Selama ini, Dedi merasa seperti ada sebuah dikotomi sosial ekonomi antara perkotaan yang tertata dengan fasilitas yang memadai, dengan perkampungan yang sangat berantakan karena tidak terkelola dengan baik.

“Itu fokusnya hari ini. Kongkritnya adalah dua hal, yakni menambah RS paru-paru, dimana penderitanya harus diangkat, diobati sampai sembuh, serta program 5.000 kampung,” imbuhnya.

Seperti diketahui, saat ini baru tersedia 1 rumah sakit paru-paru di Jawa Barat. Sementara dengan jumlah penderita yang semakin meningkat, semestinya tersedia minimal 5 rumah sakit besar dengan fasilitas lengkap dan memadai. “Jadi nanti harus ada di setiap wilayah, kalau saat ini istilahnya di DKPP. Jadi di setiap wilayah DKPP, rumah sakit yang didalamnya dapat melayani unit paru-paru,” terangnya.

Usai membahas program kesehatan, Dedi kemudian mendapat curhatan dari 7 orang janda tua, yang usianya rata-rata 60-80 tahun. Mereka adalah Pinah, Mani, Embut, Umih, Temi, Morma dan Masarno.

Sebagai janda yang berusia lanjut, mereka sama-sama memiliki masalah keterbatasan ekonomi. Pinah misalnya, ia terpaksa merelakan cucunya tidak bersekolah, lantaran tidak memiliki biaya.

“Ora duitnya pak, (tidak punya uang) mau sekolahi cucu gak ada ongkosnya,” kata nenek berusia 80 tahun itu di hadapan Dedi.

Mendengar keluhan para janda tersebut, Dedi pun memberikan solusi sambil sesekali mengeluarkan candaan. “Makanya, kalau enggak punya uang buat ongkos, sekolahnya yang deket-deket rumah saja,” kata Dedi yang disambut tawa warga.

Di akhir-akhir pertemuan, Dedi masih menyempatkan guyon dengan para janda Kampung Lubang Buaya itu, sambil mempromosikan dirinya kepada warga setempat.

“Nah ini janda-janda lagi nunggu jodoh. Janda-janda mencari cinta dan butuh cinta. Gini, nanti 27 Juni jangan lupa coblos nomor 4. Jadi bukan saya yang coblos janda, tapi saya dicoblos sama janda,” kelakarnya.

Sumber : news.okezone.com