Dedi Mulyadi Tinjau Masjid Dengan Konsep Sunda Hasil Karyanya

Sebuah masjid besar dengan arsitektur Sunda atau disebut Tajug Gede telah berdiri megah di bekas tempat lokalisasi Cilodong, Kabupaten Purwakarta. Mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyempatkan diri melihat langsung lokasi masjid tersebut bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan di luar pengunduran dirinya sebulan lalu pada Senin (12/3/2018).

Dedi mengaku arsitektur masjid yang namanya kini berubah menjadi Tajug Gede Cilodong ini merupakan ide dirinya. Ia mengaku bukan sebagai arsitek tetapi mengetahui tentang arsitektur Sunda. “Masjid ini pembangunan saya yang terakhir. Kemarin belum sempat lihat, jadi hari ini ke sini dulu untuk melihat,” kata Dedi di lokasi masjid, Senin pagi.

Masjid yang berdiri di atas lahan seluas sembilan hektar tersebut memiliki tiga atap. Ini melambangkan tiga rukun yang harus dilaksanakan oleh umat Islam, yakni rukun Islam, rukun Iman dan Ihsan. Selain itu, Tajug Gede Cilodog juga memiliki 4 pilar yang melambangkan empat pemimpin mazhab yang masyhur dalam Islam. Yakni Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris atau Imam Syafi’i dan Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal.

Keempat aliran ini merupakan mazhab utama yang dianut oleh para ahlus sunnah wal jama’ah atau sunni. Di Indonesia, para pengamal akidah ini berkumpul dalam organisasi Nahdlatul Ulama atau NU. Di dalam masjid, para jemaah akan dimanjakan dengan pilar-pilar yang dilapisi ukiran khas Sunda. Jendela yang besar juga merupakan kekhasan dari arsitektur Sunda yang diterapkan di masjid dengan kapasitas 1.200 jemaah itu. “Desainnya arsitektur Sunda, nama mesjidnya juga menggunakan nama Sunda, Tajug Gede Cilodong. Ini bisa menjadi wisata religi untuk masyarakat,” jelas Dedi.

Sementara itu, Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Purwakarta, Aep Durrohman mengatakan, kontraktor pembangunan Masjid Raya Cilodong sudah melaksanakan pekerjaan tersebut sesuai kontrak. Nilai kontraknya sebesar Rp 38 miliar, tapi kontraktor sampai saat ini baru mencairkan anggaran sebesar 75 persen dari nilai kontrak tersebut. “Kalau merujuk pada kontrak kita bersama pihak ketiga, masjid itu sudah 100 persen selesai. Bahkan, pihak ketiga baru mencairkan 75 persen saja dari nilai kontrak,” jelas Aep.

Kepala Bidang Tata Bangunan Distarkim, Dian Andriansyah mengatakan, pihaknya masih membutuhkan dana Rp 5 miliar untuk penyelesaian fisik masjid dan pembangunan taman. Pihaknya sudah menganggarkan dana Rp 1 miliar pada tahun 2018. “Nantinya, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, halaman masjid tersebut yang dihiasi taman dapat berfungsi sebagai rest area,” kata Dian.

 

Sumber : kompas.com