Kader Muda: Setiap Masalah Harus Dimaknai Secara Progresif Oleh Golkar

Khalid Zabidi Golkar

Dinamika konflik pada Partai Golkar semakin menggelinding liar, berbagai kesepakatan yang telah dibuat sepertinya hanya semakin memunculkan asumsi-asumsi baru. Sebagian pihak tetap memaksakan status quo entah sampai kapan, sebagian lagi menginginkan Munaslub kembali digelar oleh partai yang telah berusia lebih dari setengah abad ini.

Jika Golkar dipaksakan pada kondisi status quo, maka diproyeksikan penurunan elektabilitas akan terjadi secara konstan dan simultan. Hingga sampai detik ini saja, beberapa lembaga survey menyatakan elektabilitas Golkar telah berhasil disalip oleh Gerindra. Golkar bukan lagi sedang krisis, tapi mendiamkan titik didih ini sama saja membenamkan Golkar menuju titik nadir.

Khalid Zabidi, salah satu pengurus DPP Partai Golkar turut menyatakan keprihatinan dalam dinamika Partai Golkar yang masih belum diketahui ujungnya ini.  Hal tersebut diketahui dari cuitan yang Ia lontarkan melalui akun twitternya, @alitzabidi.

“Apa kira-kira yang dipikirkan dan dikhawatirkan elit-elit Partai Golkar saat ini? Saya duga hanya ada 3 hal saja: 1. Apakah posisi dia aman sebagai pengurus/struktur? 2. Apakah rekom pilkada akan berubah atau apakah masih bisa diubah. 3. Apakah dapil saya aman untuk nyaleg 2019?” Celoteh Khalid melalui akun twitternya @alitzabidi pada hari ini, 27 November 2017.

Celotehan tersebut dirasa realistis untuk dipertanyakan mengenai kondisi Golkar pada hari ini. Mereka yang berteriak Golkar harus Munaslub, atau Golkar harus tetap dalam status quo seperti sekarang semestinya melakukan otokritik pada diri sendiri. Mereka sedang berbicara tentang kepentingan Golkar secara kepartaian dan kelembagaan atau sebetulnya mereka mengamankan posisi masing-masing?

Motivasi dengan menggunakan rujukan 3 pertanyaan tersebut semakin membuncahkan fikiran bahwa memang ada sebagian pihak yang asik menikmati kondisi Golkar dalam jeram konflik. Khalid dalam pernyataannya ketika dihubungi oleh tim redaksi menyampaikan maksudnya. Bahwa apa yang terjadi pada Partai Golkar hari ini harus dijadikan momentum untuk bergerak ke arah perubahan yang lebih baik.

“Momentum sekarang yang sedang dialami partai kita, harus dijadikan suatu perubahan yang sesungguhnya, harus di ubah perilaku-perilaku elit partai, baik yang di pusat maupun yang di daerah,” jelas Khalid saat dihubungi melalui percakapan via telfon.

Pada lanjutan twitnya, Khalid menganologikan jika terjadi Munaslub, Golkar harus progresif melihat keadaan dan kondisi. Dinamika ini harus mampu dirubah Golkar menjadi energi yang positif, Golkar lebih jauh harus melakukan transformasi menjadi partai yang adaptif terhadap kondisi zaman.

“Golkar harus melakukan transformasi menjadi partai yang lebih adaptif dengan perkembangan dunia. Ibarat main sepak bola, Golkar kini lebih membutuhkan pemain yang berkarakter playmaker daripada striker sebagai Ketua Umumnya.” twit @alitzabidi pada hari ini, 27 November 2017.