Kisah Haru Anak Korban Banjir Citarum Ini Membuat Dedi Mulyadi Terisak-Isak

Calon Wakil Gubernur Jawa Barat asal Partai Golkar dan Demokrat, Dedi Mulyadi secara kebetulan bertemu dengan anak para pengungsi korban banjir Sungai Citarum 31 tahun lalu di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (24/1/2018) malam.

Banjir Citarum tahun 1986 lalu tak mudah dilupakan oleh ribuan pengungsi yang menempati wilayahnya sekarang yang dulunya adalah tempat relokasi korban banjir.

“Bapa saya namanya Pardi, kabur entah kemana. Saya di rumah tinggal sama mamah Enok, bersama adik bernama Fatur. Saya masih sekolah kelas delapan SMP, Pak,” kata Iwan (14), salah seorang anak yang bertemu Dedi Mulyadi, saat menggelar acara bareng grup seninya di Lapangan Manggahang, Baleendah, Kabupaten Bandung, malam tadi.

Dedi bersama grup seninya menghadiri undangan acara peringatan bencana banjir Citarum, bersama komedian Ohang dan Ki Daus. Selama ini pun Dedi selalu gencar mengemukakan gagasan tentang kebersihan Sungai Citarum dan mengembalikan kondisinya seperti sedia kala.

Di hadapan Dedi, Iwan mengaku sudah lama ditinggalkan sang ayah. Bahkan, dirinya sekarang ini telah lupa wajah ayah kandungnya tersebut. “Bapak saya mah nurus tunjung (tidak punya rasa malu),” tambah Bayu.

Selama ini ibu kandungnya, Enok, selalu berjuang sendirian memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan berjualan gorengan. Setiap hari, Enok mengaku memiliki keuntungan Rp 15.000 dari hasil berjualannya tersebut.

“Hasilnya dicukup-cukupkan saja Pak,” kata Enok, sang ibu yang menghampiri anaknya bersama Dedi Mulyadi.

Iwan sendiri terpilih secara acak saat acara seni berlangsung. Tanpa diketahui sebelumnya, anak itu mendapatkan kesempatan menyampaikan keluh kesah kehidupannya kepada salah satu kandidat di Pilgub Jabar itu.

Seperti biasanya, para kolega Dedi langsung menghampiri anak tersebut dan mengumpulkan bantuan untuk anak dan ibunya. Hasilnya terkumpul Rp 12 juta. Bantuan ini untuk tambahan modal dagangan bagi Enok dan anaknya agar bisa bertahan hidup.

“Semoga bermanfaat. Untuk Iwan, bantu ibu, gantikan peran bapak untuk membahagiakan ibu. Berbicara ibu jadi sedih karena saya pun mengalaminya,” kata Dedi sambil memeluk Iwan dan Enok. Suasana pun berubah menjadi haru biru.

Dedi mengatakan, selama ini status tanah relokasi warga di Manggahang, Baleendah, masih milik Pemkab Bandung. Ia pun berjanji jika terpilih nanti akan membantu akan memberikan tanah tersebut kepada para pengungsi yang sudah puluhan tahun bermukim di wilayah itu.

“Berikan saja tanah ini kepada rakyat. Kalau takut kehilangan aset, nanti bisa digantikan oleh Pemprov Jabar,” pungkasnya.

 

 

Sumber : Kompas