Legislator Golkar Ini Petik Makna Positif Dari Konflik Politik Partai

eka sastra

Perayaan ulang tahun ke-53 Partai Golkar seharusnya disambut penuh sukacita. Namun yang terjadi sebaliknya. Aneka konflik dan ‘perundungan’ terus menerpa Partai Beringin. Berbagai ujian politik terus menerjang dan kasus terakhir langsung menembak secara telak pucuk pimpinannya, Setya Novanto, karena untuk yang kedua kalinya menjadi tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus KTP elektronik (e-KTP).

Bisa dikatakan, ini ujian terberat Partai Golkar karena sengkarut partai ini berdekatan dengan tiga momentum besar, pesta rakyat Pilkada 2018 serta Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019. Untuk mengetahui strategi dan suasana kebatinan Partai Golkar dalam menghadapi dan menyelesaikan masalahnya, berikut ditanggapi oleh Eka Sastra. Ketika ditanyakan mengenai elite partai yang seolah saling sikut dan mencari kesempatan di tengah turbulensi politik seperti itu.

“Harus diakui bahwa terdapat perbedaan antara Golkar dengan partai lain. Golkar ini merupakan partai yang paling tua dalam sejarah politik negeri ini. Sistem kepartaian kami sudah terstruktur dengan sangat baik. Kemudian, Golkar juga adalah partai terbuka. Artinya, meski terjadi persaingan antar faksi dalam dinamika politik di internal sifatnya tidak pernah personal,” tukas Eka Sastra.

Namun bagi Eka Sastra, banyaknya faksi yang juga masuk dalam dinamika politik bukanlah sebuah hal yang harus disikapi secara negatif. Eksas justru menyikapinya secara positif dan menyambut jika adanya faksi merupakan sebuah peluang yang justru dapat melahirkan sebuah gagasan bagi kebesaran Partai Golkar.

“Pertarungan faksi selalu disandarkan pada ide dan gagasan. Hal ini tentu menjadikan tiap faksi berlomba dalam menjadikan organisasi lebih baik dan maju. Nah, itulah yang membuat Golkar senantiasa dinamis, meski diterpa badai politik yang luar biasa seperti sekarang ini,” jelas Eka Sastra.

Eka juga menilai jika apa yang terjadi di tubuh Partai Golkar hari ini pasti akan bisa diselesaikan secara elegan dengan jalan bermusyawarah. Hal tersebut adalah sebuah budaya baik dalam politik yang telah lama terbangun dalam tubuh Partai Golkar. Bagaimana mencari jalan keluar dengan jalan sebaik mungkin tanpa mengorbankan pihak manapun.

“Lebih jauh, karena kami partai terbuka, di internal itu ruang musyawarah sangat terbuka. Sehingga, segala persoalan selalu kami diskusikan di dalam. Kami selalu solid, kalaupun tidak, itu lebih dikarenakan adanya beberapa kelompok saja yang tidak puas. Tapi intinya di dalam kami solid untuk isu eksternal dan tetap fokus pada agenda politik ke depannya,” tegas Eka Sastra menutup pembicaraan.