Legislator Golkar Ungkapkan Mengartikulasi Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa Bernegara

kang agun

Dalam 1 dekade terakhir, banyak persoalan telah dihadapi Negara Indonesia yang berada dalam era reformasi dan globalisasi saat ini. Segala macam persoalan itu sesungguhnya bisa diselesaikan apabila kita secara konsisten melaksanakan dan juga memegang teguh Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika).

Pada satu kesempatan, legislator Golkar asal Jawa Barat, Agun Gunandjar Sudarsa menyampaikan pemikirannya tentang aplikasi 4 pilar dalam kehidupan berbangsa & bernegara.

“Yang dibutuhkan bangsa ini adalah konsistensi dan soliditas dalam pelaksanaan Empat Pilar,” jelas Agun Gunandjar Sudarsa, anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, ketika menjadi narasumber dalam pelatihan untuk pelatih (training of trainers) Empat Pilar MPR di kalangan dosen perguruan tinggi negeri dan swasta se-Surakarta, di Hotel Paragon, Solo.

Kepada 100 dosen peserta pelatihan, pria yang akrab disapa Kang Agun itu mengungkapkan sejumlah persoalan dalam mengelola negara Indonesia. Dia menyebutkan, Indonesia adalah negara yang besar, memiliki tanah yang subur, dan hanya mengalami fase dua musim.

“Tapi kenapa Indonesia mengimpor beras? Sebenarnya tidak mungkin Indonesia yang berada di negara tropis justru mengimpor beras. Tidak masuk akal Indonesia mengimpor beras, adakah yang salah dalam pengelolaan Negara ini?,” ujarnya.

Agun juga mengatakan dua pertiga negara Indonesia adalah laut. Dengan laut yang luas serta pesisir yang panjang, Indonesia sangat bisa menghasilkan ikan dan garam, bahkan menjadi Negara eksportir untuk mencukupi kebutuhan ikan dan garam di dunia. Tapi pada kenyataannya, Indonesia malah mengimpor garam dan ikan. “

Jadi pasti ada yang salah dalam pengelolaan negara ini,” katanya.

Agun menambahkan Indonesia berada dalam era reformasi yang menjunjung tinggi supremasi hukum, menganut prinsip Hak Azasi Manusia, dan merupakan negara yang sudah memilih demokrasi dengan berlandaskan hukum. Maka dalam sebuah demokrasi, perbedaan pandangan dan pikiran harus diterima sebagai sebuah keniscayaan. Perbedaan pandangan dan pendapat adalah keniscayaan. “Jadi tidak perlu harus ribut. Tapi yang terjadi hari ini adalah adanya pendekatan emosional dan egosektoral, bukan sebuah pendekatan kesetiakawanan apalagi yang memegang prinsip komunal,” katanya.

Satu masalah lagi, lanjut Agun, kini Indonesia berada di era globalisasi. Saat ini, media sosial di jejaring internet lebih berpengaruh dibanding media mainstream. Orang lebih percaya pada media sosial, polling, dan survey. “Itulah fenomena kita hari ini. Kalau persoalan ini terus berlangsung maka tujuan kita bernegara dan berbangsa akan kehilangan eksistensi dan jati dirinya. Kita telah melupakan bahkan meninggalkan pilar-pilar kebangsaan,” imbuhnya.

Menurut Agun, bangsa Indonesia sesungguhnya sudah memiliki Empat Pilar (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) untuk mengelola negara ini. “Yang dibutuhkan sekarang ini adalah konsistensi dan soliditas. Konsistensi dalam melaksanakan Pancasila dalam setiap ucapan, tindakan, dan perilaku lantas bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan nilai Ketuhanan,” sebut Agung.

“Konsistensi pula dalam menjalankan UUD 1945. Segala hal sudah diatur dalam konstitusi seperti memilih presiden, melaksanakan pendidikan, mengupayakan kesehatan, memelihara fakir miskin, menumbuhkan ekonomi, dan lainnya. Konsistensi terhadap NKRI berarti tidak berusaha memisahkan diri dari NKRI. Konsisten menerima keragaman. Yang dibutuhkan konsistensi dan soliditas untuk menghadapi persaingan global, itu yang paling fundamental,” ucapnya.