Media Sosial Adalah Sintesa Sebuah Gerakan Sosial

Ragam Media Sosial

Frasa media sosial sudah familiar bagi masyarakat indonesia, pengguna media sosial di indonesia juga semakin marak. Bagi sebagian masyarakat, seolah ada yang kurang jika satu hari saja tidak berkunjung ke akun media sosial, untuk membuat status atau hanya sekedar melihat tren yang sedang terjadi di media sosial. Tercatat ada kurang lebih 20 juta pengguna media sosial twitter dan 55 juta masyarakat indonesia pengguna aktif facebook (harianTI.com), belum termasuk medsos lain seperti path, instagram atau linkedln.

Dari angka tersebut beragam klasifikasi masyarakat indonesia sebagai pengguna medsos, mulai dari masyarakat kelas bawah sampai atas, juga masyarakat berpendidikan tinggi sampai berpendidikan rendah. Banyaknya pengguna media sosial bisa di karenakan kemudahan akses dan daya tarik untuk memperbanyak ruang lingkup sosialisasi.

Menarik membahas fenomena yang di timbulkan media sosial belakangan ini, selain sebagai alternatif sosialisasi, medsos tidak jarang juga berperan sebagai sebuah gerakan sosial dan aspirasi suara masyarakat. Hal ini bisa di lihat dengan seringnya sebuah kejadian menjadi trending topic pada twitter atau bisa di katakan sebagai hal yang paling sering di bahas di twitter dan di tanggapi serius oleh objek topik, itu menjadi indikator sebuah masalah begitu penting hingga netizen (pengguna internet) menjadikannya bahasan. Fenomena trending topic ini tidak bisa di anggap sepele, hal tersebut bisa menjadi bukti partisipasi dan reaksi masyarakat pada social movement (gerakan sosial) terhadap sebuah gejala sosial lalu berpengaruh pada dunia nyata.

Aksi dan Reaksi Pengguna Media Sosial Pengaruhi Gerakan Sosial

Misalnya saja pada kejadian trending topic dengan hastag #shameonyouSBY pada 2014 silam, latar belakang terjadinya trending topic ini lantaran pak SBY sebagai presiden RI saat itu sekaligus ketua umum partai yang menjadi mayoritas di legislatif telah berkomitmen secara nyata untuk memilih pilkada langsung pada rapat paripurna yang membahas masalah UU pilkada oleh DPRD. Namun ternyata, fraksi demokrat yang di ketuai oleh pak SBY malah melakukan walkout dari paripurna dan hasilnya adalah voting yang di menangkan oleh pemilih pilkada tak langsung.

Publik bereaksi atas hal tersebut, hasilnya 3 hari hastag #shameonyouSBY bertengger di trending topic. Reaksi publik yang begitu dominan di medsos nyatanya di tanggapi serius oleh pak SBY. Dan buah dari reaksi publik di twitter tersebut adalah penerbitan PERPPU mengenai pembatalan UU pilkada tak langsung. Ini tanpa disadari telah menjadi sebuah gerakan sosial yang dapat mempengaruhi kebijakan publik yang dilakukan oleh sebuah lembaga maupun pemangku kepentingan dan kebijakan.

jika boleh belajar pada hal tersebut maka jelas peran dan fungsi medsos telah bergeser dari media sosialisasi dan interaksi menjadi media bagi masyarakat menyuarakan aspirasinya secara terbuka. Ini berkaitan dengan bagaimana publik atau masyarakat melihat gejolak sosial di sekelilingnya lalu memberikan tanggapan maupun informasi kepada orang yang memiliki kewenangan lebih untuk dapat segera di tanggapi aduannya. Kemudahan masyarakat mengakses akun tokoh-tokoh publik dan di tanggapi secara langsung membuat daya tarik tersendiri mengapa masyarakat lebih suka mengemukakan pendapat melalui medsos.

Demam media sosial sebagai sebuah gerakan sosial bukan hanya menjangkiti indonesia, sebelumnya telah terjadi gerakan sosial atau revolusi yang di sebabkan obrolan di dunia maya mengenai soal kinerja pemerintahan di mesir. Obrolan segelintir orang mengenai isu kegagalan pemerintah ini bergulir begitu cepat di dunia maya dan menjadi gerakan nyata dengan ribuan orang turun ke jalan menuntut pemerintahan turun.

Medsos pun dewasa ini telah menjadi media kampanye dan sosialisasi politik yang cukup efektif dalam menjaring suara. Tentu kita masih ingat bagaimana barrack obama (presiden Amerika Serikat) menjadikan medsos dan juga internet sebagai instrumen kampanye. Ini berhasil di lakukan dan menjaring mayoritas pemilih di amerika serikat. Bahkan pada pemilu 2014 di indonesia lalu, presiden jokowi secara khusus membentuk tim medsos sebagai alat propaganda ke publik. Sempat juga ada istilah cyber war karena perang isu di medsos begitu marak terkait pilpres 2014.

Hal tersebut wajar terjadi karena dilihat dari efektifitas dan efisiensi penggunaan media sosial sebagai alat kampanye juga sosialisasi politik. Tidak membutuhkan banyak dana, banyaknya pengguna aktif dan target market yang jelas membuat media sosial di lirik oleh berbagai kelompok politik sebagai media sosialisasi. Jumlah pengguna media sosial yang besar merupakan sasaran empuk bagi agitasi, propaganda maupun kampanye sosial kemasyarakatan.