Mengapa Golkar Memilih Daniel Mutaqien Untuk Pilgub Jabar? Ini Alasannya.

DANIEL GOLKAR

Pilkada Jabar 2018 semakin mendekati waktunya, dinamika demi dinamika mengikuti proses politik yang ada. Tarik menarik dukungan menjadi pemandangan yang biasa saban hari. Opini demi opini pun digalang untuk menguatkan posisi para kandidat dalam pertarungan Pilgub Jabar 2018. Hal yang menarik adalah tentang bagaimana Ridwan Kamil dalam posisi yang kuat mencari pendamping untuk dijadikan Cawagub menemani dirinya.

Satu di antara kandidat bakal cawagub untukĀ  mendampingi Ridwan Kamil yang santer terdengar adalah Daniel Mutaqien. Daniel Mutaqien menceritakan bagaimana kronologi hingga akhirnya ia terpilih menjadi kandidat dari Partai Golkar yang kelak akan disandingkan dengan bakal Cagub yang berdasar hasil survey memiliki elektabilitas tinggi, Ridwan Kamil. Daniel mengatakanĀ ada proses panjang di Partai Golkar hingga akhirnya ada keputusan untuk tidak memilih Ketua DPD I Golkar Jabar, Dedi Mulyadi.

“Idealnya kan Kang Emil (Ridwan Kamil) sama Kang Dedi Mulyadi, tapi ternyata perjodohan keduanya sulit. Dua-duanya ingin menjadi nomor satu. Yang satu punya elektabilitas yang satu punya partai. Proses perjodohannya susah, proses komunikasinya juga susah,” ujar Daniel Mutaqien.

Menurut Daniel, Partai Golkar memilih namanya untuk disandingkan dengan Emil, bukan berarti partai tidak memberikan kesempatan kepada Dedi Mulyadi. Menurut Daniel, Dedi Mulyadi telah diberi waktu oleh DPP beberapa bulan untuk membawa pasangan dan juga gerbong koalisi kepada DPP Partai Golkar dari Agustus 2017 sampai Oktober 2017. Tetapi hingga waktu yang ditetapkan tidak memberikan keputusan apapun. Hingga akhirnya Partai Golkar mengubah target dari Jabar 1 menjadi menjadi Jabar 2.

“Melihat potensi Jabar yang strategis, Partai Golkar miliki keinginan untuk menang di Pilgub Jabar. Akhirnya DPP memilih alasan rasional ingin menang, karena ini juga menyangkut Pilpres dan Pileg 2019,” tegas Daniel.

Daniel yang merupakan anggota DPR RI pun pada awalnya tidak percaya kalau dirinya yang akan ditunjuk dan dipasangkan dengan Ridwan Kamil. Pertama ia mendengar dari sesama anggota DPR Fraksi Golkar, Dave Laksono. Hingga akhirnya, setelah melalui proses yang panjang Partai Golkar memilih Daniel sebagai bakal calon wakil gubernur mendampingi Ridwan Kamil.

Elektabilitas Daniel Mutaqien Miliki Trend Positif

Sementara itu, dalam beberapa survey yang digelar oleh lembaga survey, nama Daniel Mutaqien masuk dalam radar survei Poltracking Indonesia. Dalam simulasi elektabilitas 10 nama kandidat calon gubernur, namanya berada pada posisi tujuh dengan skor 1,8 persen dengan kecenderungan alami peningkatan.

Skor tersebut berada persis di bawah Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum sebesar 2,7 persen. Namun dalam simulasi elektabilitas 8 nama kandidat calon wakil gubernur, nilainya 6,8 persen berada di atas Uu 5,9 persen. Hal ini merupakan sebuah indikasi yang bagus jika merunut komparasi antar keduanya, Daniel Mutaqien dan Uu Ruzhanul Ulum.

“Elektabilitas saya mengalami peningkatan, alhamdulillah,” ujar Daniel dalam rilisnya.

Daniel juga mengakui, peningkatan elektabilitas dirinya terdongkrak oleh nama besar Golkar dan Ridwan Kamil. Sejak partai berlambang Pohon Beringin itu memasangkan dirinya dengan Ridwan Kamil, elektabilitas Daniel ikut terdorong naik.

Dengan modal elektabilitas yang terus meningkat dan berbagai upayanya melakukan safari ke berbagai daerah di Jabar, ia merasa optimis akan peluangnya mendampingi Ridwan Kamil semakin besar walaupun Ridwan Kamil mencoba untuk melakukan konvensi Cawagub, namun sepertinya hal itu hanya akan menjadi instrument penguat legitimasi Daniel Mutaqien mendampingi dirinya.

“Saya belum maksimal, saya akan terus berjuang mendatangi seluruh warga Jawa Barat,” ungkapnya.

Dalam survei terakhirnya, Poltracking mencoba memasangkan tiga pasangan gubernur-wakil gubernur. Hasilnya, elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Daniel Mutaqien berada di posisi pertama dengan nilai 39,4 persen.

Kemudian disusul Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu di angka 25,8 persen. Cukup tingginya gap elektabilitas ini disebabkan karena elektabilitas Ridwan Kamil secara perseorangan yang memang tinggi. Poltracking juga mencatat, dalam simulasi 3 nama kandidat calon gubernur, elektabilitas Ridwan Kamil sebesar 46,8 persen, diikuti Deddy Mizwar 27,6 persen dan Dedi Mulyadi 10,3 persen.