Internal dan Eksternal Golkar Menilai Airlangga Adalah Simbol Milenialisme Golkar

fayakhun-andriadi

Pasca Ketua Umum DPP Partai Golkar yang juga Ketua DPR RI Setya Novanto terbelit kasus di KPK, maka partai Golkar pun langsung  menggelar rapat pleno DPP Partai Golkar yang akhirnya memutuskan Idrus Marham sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum hingga sidang praperadilan Setya Novanto diputuskan.

Ketua Harian DPP Golkar Nurdin Halid mengatakan opsi yang berkembang adalah penunjukan Plt Ketua Umum atau langsung menggelar musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) untuk memilih Ketua Umum definitif. Menindak lanjuti wacana yang berkembang ini, berbagai pihak menilai positif terkait wacana Munaslub, dan nama semakin mengerucut pada 3 figur.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin memprediksi jika terjadi Munaslub maka, Idrus Marham, Nurdin Halid, dan Airlangga Hartarto bakal menjadi calon kuat untuk menggantikan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, Ujang menyebut nama-nama tersebut bukan tanpa alasan dan perhitungan karena ketiganya memiliki potensi dan kekuatan.

Idrus Marham adalah Sekretaris Jenderal Partai Golkar sekaligus Plt Ketum Partai Golkar saat ini, otomatis dia menguasai struktur dan relasi dengan para pengurus DPD se-Indonesia.

Terkait Nurdin Halid (NH), Ujang menjelaskan bahwa dia merupakan figur yang saat ini menjabat sebagai Ketua Harian Partai Golkar.

Sedangkan, Airlangga Hartarto, menurut Ujang, cukup kuat karena bakal dekat dengan istana dan didukung pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Golkar dalam koridor partai yang mendukung pemerintah membutuhkan figur yang dapat membuat nyaman pemerintahan Jokowi, Airlangga dirasa merupakan figur yang tepat.

Golkar akan tetap menjadi pemenang di panggung politik Indonesia ketika dipimpin oleh Ketua Umum yang mampu membaca tuntutan zaman serta sesuai dengan selera zaman “Now”.

Airlangga Hartarto merupakan sosok yang saat ini dirasa tepat memimpin partai berlambang pohon beringin ini. Tantangan politik yang dihadapi Golkar di era zaman Now memiliki perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan era-era awal reformasi, figur Airlangga mewakili keinginan generasi zaman now, apalagi jika mengingat kebersahajaan Airlangga Hartarto.

“Semua keunggulan yang dimiliki Golkar akan menjadi maksimal dalam memenangkan Golkar dalam kompetisi politik baik daerah maupun nasional jika dipimpin oleh Airlangga Hartarto,” hal ini disampaikan oleh Fayakhun Andriadi, Ketua DPD 1 Golkar DKI Jakarta, dalam keterangannya, Minggu (26/11/2017).

Alasan pertama, menurut Fayakhun, Airlangga adalah sosok yang sangat familiar dengan dunia teknologi informasi. Dia tak hanya mengerti, tapi adalah pengusaha yang memanfaatkan kecanggihan digital baik dalam bisnis, organisasi, maupun dalam mengemban tugas-tugas negara. Dalam meretas generasi milenial, dibutuhkan pemimpin dengan kriteria demikian sehingga dapat masuk pada berbagai lini generasi.

“Kedua, sosok Airlangga itu mewakili selera milenial: trendi dan bersahabat, tak berjarak. Airlangga jauh dari kesan ngebosi, sesuatu yang tidak disukai generasi milineal,” Fayakhun menambahkan.

Ketiga, lanjut Fayakhun, Airlangga adalah sosok yang cerdas, berkharisma, intelek dalam berkomunikasi dan bergaul. Era milenial adalah era transparan, dialogis, dan juga aspiratif terhadap keinginan publik.

“Ketua Umum harus siap berdialog secara cerdas kapan pun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun. Airlangga mempunyai kemampuan untuk itu,” tegas dia.

Fayakhun juga menilai, Partai Golkar memiliki semua persyaratan ideal untuk menjadi partai pemenang. Pertama, dari segi sumber daya, baik sumber daya manusia yang memiliki kader mengakar hingga desa-desa maupun sumber daya materi. Golkar adalah partai yang paling unggul. Golkar tak pernah mengalami defisit kader dan tokoh. Bahkan cenderung berlebih. Kelebihan stok, itu tak hanya  terjadi di tingkat nasional tapi juga di daerah.

Kedua, infrastuktur partai Golkar paling lengkap dan paling siap. Merata di semua daerah. Ketiga, sumber daya dana kader-kader Golkar juga cenderung lebih baik.

Tapi semua keunggulan ini bisa menguap tak bermakna jika Golkar dipimpin oleh sosok yang tidak memiliki visi dan kedekatan selera dengan milenial.

Nah, kita tinggal menunggu siapa kandidat yang akan menjadi ‘kuda hitam’ dalam memimpin partai Golkar di era milenial ini? Terpenting lagi pemimpin era milenial ini haruslah sosok pemimpin yang berintegritas, bersih juga memenuhi syarat internal yakni PDLT. Dan, akankah sosok itu mengantar Golkar sebagai Partai Pemenang? Kita tunggu saja hasilnya nanti!