Nurul Arifin Bacakan Puisi Untuk Peringati Hari Lahir Dewi Sartika

nurul puisi

Bakal calon Wali Kota Bandung yang diusung Partai Golkar, Nurul Arifin membacakan sebuah puisi untuk memperingati hari kelahiran Raden Ajeng Dewi Sartika, Pahlawan Nasional asal tatar Pasundan, yang jatuh pada 4 Desember.

Puisi tersebut berjudul Ibuku Pahlawanku dan dibacakan pada agenda Milangkala, 133 Tahun Raden Dewi Sartika yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia Jawa Barat dan Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung di Padepokan Mayang Sunda, Jalan Peta, Kota Bandung.

“Malam ini saya diundang untuk baca puisi. Saya sangat mengapresiasi ini, karena tidak semua kalangan bisa diundang juga. Apalagi semua orang melihat saya sebagai seorang ibu dan Dewi Sartika juga adalah seorang ibu, jadi kelihatannya lebih cocok untuk acara peringatan ini,” ujar Nurul usai membaca puisi.

Puisi ini sendiri dibuat oleh salah seorang anggota timsesnya, Oky Syeiful Harahap. Nurul mengatakan hal ini sebagai salah satu strategi politiknya, selain itu ini adalah cara Nurul Arifin untuk menghormati jasa pahlawan terutama RA Dewi Sartika yang lahir di Bandung.

“Kita tahu ada RA Kartini, tapi tidak kalah penting juga ada sosok R.A. Dewi Sartika, beliau mengajak anak perempuan sekolah sampai mendirikan sekolah itu sendiri, jadi saya kira kepentingan ini untuk mengingat terus perjuangannya,” ujar dia.

Artinya, sebagai orang yang lahir dan besar di Bandung, Jawa Barat. R.A. Dewi Sartika merupakan figur panutan bagi perempuan di Jawa Barat apalagi Dewi Sartika dikenal sebagai pahlawan nasional dalam bidang pendidikan. Sehingga sudah sepatutnya Nurul Arifin menghormati Dewi Sartika sebagai figur inspirasinya.

Berikut inilah penggalan puisi yang dibacakan oleh Nurul, berjudul Ibuku Pahlawanku:

Ibu adalah pahlawan.

Berasal dari cinta

Penyebab kedirianku, kedirianmu.

Asal mula ketulusan dan pengorbanan.

Tiada henti, tiada pamrih.

Menghuni diriku, dirimu, abadi.

Ibuku adalah pahlawan.

Mengandung peradaban, mengayomi, setia, menemani anak-anak bangsanya melangkah.

Berani menerjang ombak, mendaki puncak.

Menjelajah cakrawala, memeluk mentari, berdansa bersama rembulan.

Pahlawan, ibuku adalah cinta ibu pertiwi kita.

Tiada henti, sepanjang nafas, sepanjang hayat.

Nama dan harumnya, suci, melati.

Pahlawan adalah ibu.

Berjuang tak kenal lelah, menahan dahaga.

Berdarah dan cucuran airmata, melampaui kata, menahan derita, kuat menahan segala, demi jiwa raga, cinta, anak-anaknya.