Nurul-Ruli Terapkan Metode Video Call Dan Melalui Jejaring Media Sosial Untuk Interaktif Warga

Bagi calon kepala daerah, perlu strategi ekstra untuk bisa mengatur jadwal kampanye agar bisa efektif. Terdapat 6 zona, 30 kecamatan, empat sampai lima titik lokasi kampanye per hari yang harus dipenuhi para calon. Mereka harus menjalani ritual itu selama 121 hari kampanye.

Selama ini, pasangan calon menyiasati sebaran lokasi kampanye yang harus disinggahi dengan membagi tugas. Calon wali kota dan calon wakil wali kota harus berpisah demi memenuhi jadwal kampanye serta undangan warga atau komunitas.

Senin 19 Februari 2018 kemarin, pasangan calon Nurul Arifin-Chariul Yaqin Hidayat hanya punya satu jadwal kampanye. Ruli, panggilan Chairul, dijadwalkan oleh Tim Nuruli untuk berkampanye sendiri. Sementara Nurul Arifin masih di perjalanan menuju Bandung, dari Jakarta.

Di hari keempat kampanye itu, Ruli baru start dari wilayah tempat tinggalnya, di RW 02, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap. Bertempat di Balai RW 02, tokoh masyarakat, ibu-ibu PKK, pemuda, hingga Linmas telah berkumpul. Mereka mendengarkan paparan calon wakil wali kota Bandung itu terkait sejumlah program baru yang akan dijalankan jika terpilih nanti.

Saat warga khidmat mendengarkan presentasi Ruli, anggota tim Nuruli memotong percakapan. Ia mengumumkan kepada warga jika Nurul Arifin telah bergabung dengan forum sore itu.

Di tengah keheningan, suara Nurul sedikit berteriak mengucap salam kepada Ruli melalui layar telepon pintar. Ruli pun mengarahkan layar telepon ke warga yang tengah berkumpul.

Dengan bersemangat, Nurul pun berteriak menyapa warga, dengan bantuan mikrofon. Warga semringah, spontan melambaikan tangannya, serasa Nurul ada di ruangan. Padahal, calon wali kota Bandung itu berada di dalam mobil yang jaraknya masih jauh dari Cidadap.

Pasangan Nuruli telah memulai cara yang memang tidak baru, tetapi cukup efektif. Mereka mulai memanfaatkan fitur panggilan video dari aplikasi percakapan. Saat ini, beragam aplikasi serupa banyak digunakan karena gratis. Tinggal menyiapkan kuota internet dan kestabilan sinyal penyedia jaringan.

“Tadi itu spontanitas. Warga ingin bersapa Teh Nurul yang belum bisa menyempatkan hadir. Selama momennya bisa diupayakan, kami akan terus berkolaborasi dengan menggunakan fasilitas teknologi seperti ini,” kata Ruli.

Jika mereka terpilih memimpin Bandung, kata dia, ke depan layanan mudah dari ragam aplikasi ini akan diterapkan dalam proses penentuan kebijakan kepala daerah di Kota Bandung. Masyarakat Kota Bandung yang tidak bisa ikut rembuk dalam Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan Kota Bandung bisa terlibat, meskipun tidak ada di tempat.

Prinsipnya, kata Ruli, keterbukaan harus dibarengi dengan kemudahan akses warga. Dengan begitu, warga bisa mengikuti setiap proses perencanaan pembangunan kota. Jika rapat yang dilakukan memanfaatkan siaran dan interaksi langsung di aplikasi Instagram, Facebook, Twitter, Line, atau aplikasi percakapan lainnya terlewat, warga masih bisa mengomentari melalui hasil rekaman yang diunggah di kanal video semacam Youtube.

“Kita tahu, banyak warga yang disibukkan dengan kegiatannya. Nanti mereka bisa aktif terlibat, istilah kami interaktif, untuk mengawal pembangunan kota sejak proses perancangan. Supaya hasilnya memang murni dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” tuturnya.

Sumber : Pikiran-rakyat.com