Perasaan Nurul Arifin Saat Bedah Buku D’Ustaz, Terngiang Teman Lama

Politisi Golkar yang kini menjadi calon wali kota Bandung Nurul Arifin mengaku setelah menyimak para pembicara dalam Bedah Buku D’Ustaz menjadi teringat dengan pemikiran beberapa temannya.

“Beberapa menit di sini, (saya) menangkap kalimat-kalimat indah, mengingatkan (saya) pada teman saya, Komarudin Hidayat, dan Bachtiar Effendy,” ujar Nurul yang hadir sebagai tamu dan duduk di antara pembicara dalam acara Bedah Buku D’Ustaz di Terminal Coffee, Jalan Cemara, Kota Bandung, Minggu (4/2/2018).

Nurul mengatakan ketika bercakap-cakap dengan Muaz Malik, penulis buku yang dibedah, terdapat banyak kenakalan dan keliaran dalam cara berpikirnya tetapi hal itu menjadi asyik.

“Mendekonstruksi of the box. Muaz itu sedang bertanya tanya dengan dirinya. Hal-hal menarik dari (yang) saya (lihat), seorang ustaz tidak dikemas (dengan) sosok yang serius, tapi ustaz yang populis dan gaul banget,” katanya.

Selain itu, keberadaannya di kafe tersebut diakui Nurul, menjadi teringat dengan beberapa kafe yang ada di sudut Jakarta.

“Ternyata kafe begitu sufistik ya,” ujar dia seraya membetulakan kerudung berwarna abu-abu yang dikenakannya.

Menurutnya, ternyata berikhtiar dalam hal berceramah, itu tidak harus di suatu tempat yang sakral seperti di tempat khusus musala, dan masjid, tetapi dapat dilakukan di sebuah kafe atau di mana saja.

Sambil menikmati secangkir kopi hangat identik dengan dunianya laki-laki. Walau pada kenyataannya sebagian perempuan juga merupakan penikmat sejati minuman yang nikmat disantap kala hangat ini.

Salah satu wanita penikmat kopi ialah calon Wali Kota Bandung, Nurul Arifin. Nurul Arifin mengatakan ia merasa tidak bisa lepas dari kebiasaan meminum kopi. Nurul mengaku dalam sehari bisa meminum kopi paling sedikit dua gelas dalam satu hari.

“Saya minum kopi minimal sehari dua kali tapi bisa lebih tergantung saya berada dimana, dan ngobrolin apa, jadi bisa nambah tiga atau empat kali,” ujar Nurul, usai bedah buku “D’Ustaz, di Terminal Coffee, Jalan Cemara, Kota Bandung, Minggu (4/3/2018), sore.

Nurul menuturkan tidak membatasi jenis kopi tertentu yang diminumnya tiap hari. Menurutnya cita rasa varian kopi sangat cocok dengannya serta membuatnya ketagihan.

“Saya bebas kopinya, justru berbagai macam rasa itu tubuh menjadi kaya juga,” ujar kader partai Golkar itu.

“Karena rasanya lebih pekat, campur susu biar tidak pekat. Biasanya setiap kafe ada kekuatan kopi apa yang ditawarkan dan saya ikut direkomendasi oleh mereka saja,” katanya.

Sumber : Tribunnews.com