PPP & Golkar Kota Bogor Jalin Koalisi, Bisa Dukung Atau Tumbangkan Petahana

kota bogor

Resminya Partai Golkar bergabung dalam koalisi bersama PPP, PKB dan Nasdem dalam mengusung Ridwan Kamil (RK) pada Pilgub Jabar, disikapi serius oleh para pimpinan partai di Kota Bogor terutama partai yang ikut mengusung Ridwan Kamil pada Pilgub Jabar. Ketua DPD Golkar Kota Bogor Tauhid J Tagor beserta jajaran pengurus, melakukan pertemuan dan silaturahmi dengan Ketua DPC PPP Kota Bogor Zaenul Mutaqin (ZM), beserta jajaran pengurus di Cafe Mead East, Kecamatan Bogor Tengah.

Ketua DPD Golkar Kota Bogor, Tauhid J Tagor mengatakan, untuk Pilgub Jabar telah terbangun komunikasi dan koalisi antara Golkar dengan PPP, PKB dan Nasdem. Hasil koalisi itupun harus disikapi dan diperkuat, bahkan juga dipertegas oleh daerah, terutama di Kota Bogor yang juga akan menggelar Pilwalkot pada 2018 nanti.

“Lebih enak apabila nanti di Pilwalkot Bogor terjadi akselerasi antara Jawa Barat dan Kota Bogor. Pilkada nanti akan serentak dan bersamaan, jadi apabila paketnya sama, maka akan memudahkan dalam perjuangan Pilkada nanti. Kita menjaga kondusifitas Kota Bogor menjelang Pilwalkot dan Pilgub Jabar, sehingga komunikasi politik antar parpol koalisi kita bangun terus menerus,” ungkap Ketua DPD 2 Golkar Kota Bogor ini, Senin (13/11/17).

Terkait rekomendasi Partai Golkar yang memilih Daniel Mutaqien pada Pilgub Jabar, Tagor menerangkan bahwa Ketua DPD Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi sudah menerima bahwa yang di usung adalah Daniel Mutaqien. Sehingga dengan adanya keputusan rekomendasi DPP itu, semua daerah fatsun atas keputusan tertinggi partai. Termasuk Kota Bogor juga mengikuti fatsun dari DPP Golkar. Tidak ada alasan bagi DPD 2 Jabar menolak keputusan tersebut. Pasalnya Dedi Mulyadi yang juga menjadi Ketua DPD 1 Golkar tidak berkeberatan dan menerima sepenuhnya atas keputusan tersebut.

“Kita semua fatsun dengan keputusan itu, sehingga harus kita kuatkan koalisinya hingga sampai ke daerah,” terangnya.

Dengan sudah terbangunnya koalisi di tingkat Jawa Barat, maka hal itupun berpeluang besar untuk koalisi Jabar ditarik ke Pilwalkot Bogor. Menyangkut incumbent petahana Walikota Bogor, Tagor menuturkan bahwa koalisi Golkar dan PPP bisa saja bergabung dengan petahana atau head to head dengan petahana, artinya menyiapkan calon sendiri dari hasil komunikasi dengan koalisi untuk menumbangkan kedigdayaan petahana.

“Kita berpeluang besar berkoalisi dengan petahana incumbent, nanti untuk posisi F1 dan F2 tinggal di bicarakan bersama saja. Jadi bisa saja koalisi di Pilwalkot ini adalah koalisi Jabar plus plus, karena ada gabungan dari petahana,” ucapnya.

Namun demikian, semuanya masih mencair dan dinamis, karena perpolitikan di Kota Bogor juga terus berkembang dengan dinamika di tingkat Jawa Barat.

“Pertemuan parpol antara PPP dan Golkar ini memang belum pernah dilaksanakan, sehingga hari ini dilakukan pertemuan menindaklanjuti adanya koalisi Pilgub Jabar. Hasil koalisi Pilgub Jabar harus disikapi serius di daerah Kota Bogor. Kalaupun nanti ditakdirkan berkoalisi antara PPP dan Golkar untuk Pilwalkot Bogor, maka akan lebih mudah karena sudah terbangun komunikasi,” kata Zaenul.

Tetapi sampai saat ini PPP belum mendapatkan arahan dari DPW Jaw Barat terkait koalisi Pilgub Jabar untuk di Pilwalkot Bogor, apakah akan dilanjutkan koalisi itu, atau Kota Bogor diberikan kebebasan untuk memilih dan menentukan arah partai koalisi.

“Bagi kami dengan siapapun PPP berkoalisi, semuanya sangat memungkinkan termasuk apabila berhadapan juga harus dihadapi. PPP berbicara saat ini karena belum ada kepastian, baik nanti berkoalisi dengan incumbent atau berhadapan dengan incumbent. Kita masih terus membangun komunikasi,” jelasnya.

Zaenul juga mengakui bahwa dirinya terus mendapat dukungan dari masyarakat, bahkan sejumlah kyai kyai kampung di Kota Bogor, memberikan dukungan agar maju Pilwalkot, dan memberikan saran agar berpasangan dengan Walikota incumbent Bima Arya.

“Dukungan sudah kedua kali, pertama dari para kyai Gema Aswaja dan sekarang dukungan dari para kyai kampung. Ini merupakan dorongan dalam rangka menghadapi Pilwalkot nanti. Dukungan dari para ulama menjadi salah satu yang menguatkan saya maju di Pilwalkot, bahkan para ulama memberikan saran kepada saya agar berpasangan dengan Bima Arya. Saran itu akan saya pertimbangkan dalam perpolitikan ini,” pungkasnya.